Ilustrasi (Foto: Freepik/freepik
Mawar Cinta dalam Duri
Mengapa kau berduri?
Haruskah cinta pun menyisakan perih?
Namun walau berduri, tetap kausuguhkan keindahan.
Meski berkerikil, langkahku takkan surut mengejarmu.
Sebab dalam durimu, kutemui kelembutan,
Dalam kerikilmu, kutemui sinar matamu yang menawan.
Mawarku
Pesonamu mengundang mata menatap,
Memanggil hati untuk mendekap.
Namun, tak akan kubiarkan mereka merebutmu.
Hati ini berjanji,
Akan menjadi yang pertama mengucap,
"Aku mencintaimu, selamanya."
Kaulah bunga yang kupilih, satu dalam taman hatiku.
Tatapan yang Menautkan Waktu
Tatapanku menemukanmu lebih cepat dari waktu.
Detak jantung melagukan nada yang baru.
Hatiku menari dalam kebahagiaan,
Karena sejak awal, aku telah memilihmu.
Nama yang Kutitipkan dalam Doa
Nama itu selalu ada dalam detak nadiku,
Menyulam makna dalam setiap rasa.
Menuliskan kisah tentang kesetiaan cinta.
Adalah nama yang kugenggam erat,
Di antara ribuan nama yang berlalu.
Nama yang kujaga tetap ada,
Dan kutitipkan dalam doa,
Agar selalu hadir dalam langkah-langkahku.
Tentang Nama Itu
Biarkan aku memohon satu hal:
Untuk menjadi satu,
Satu nama dalam pengembaraan hidup,
Mendayung perahu menuju mahligai cinta.
Cinta yang Tak Bertepi
Rasa ini tetap milikmu,
Cinta ini tercipta hanya untukmu.
Kata-kata ini selalu teruntukmu,
Harapan ini akan selalu bersamamu.
Kita terikat dalam satu kisah,
Dalam satu cinta yang mengabadikan kebersamaan.
Senyummu, Cahaya dalam Hatiku
Bagiku, kaulah pemilik senyum terindah,
Senyum yang menyemai harapan,
Menghidupkan pelita di gelap malam.
Bagiku, kaulah permata,
Yang tak hanya menghiasi hatiku,
Namun juga membangun bahagia.
Untukmu pemilik hati,
Hati ini bukanlah ladang,
Yang ditanami sementara.
Bersama rasamu,
Hatiku adalah rumah.
Yang hidup, kokoh, dan hangat.
Kita membangunnya,
Menghiasnya dengan cinta,
Menjadikannya perlindungan tanpa musim.
Untukmu, Pemilik Hati
Genggamlah rasa dalam sadar,
Bersama, mari melangkah meraih mentari,
Sebelum pagi berlalu.
Bersama, kita membangun,
Mengukir kisah yang luar biasa.
Melawan Gombal
Aku mencintaimu, bukan sekadar kata,
Tapi bahasa hati yang terukir tulus.
Aku merindukanmu, bukan sekadar rayuan,
Tapi bahasa rasa yang tertulis dalam jiwa.
Aku tak bisa hidup tanpamu, bukan sekadar ungkapan,
Tapi kebenaran yang kurasakan setiap hela napas.
Aku tak bisa jauh darimu, bukan sekadar janji,
Tapi kejujuran hati.
Tentang hadirmu yang menjadikanku berarti.
Senyummu adalah aliran kesejukan,
Yang menghidupkan nadiku, bukan sekadar pujian.
Jika semua ini kau anggap gombal,
Maka biarkan sajak ini yang menjawabnya.
Karena cintaku bukan rayuan,
Melainkan kisah yang kutulis dengan ketulusan.
Kau dalam Setiap Detik
Kau adalah detak di jantungku,
Mengalun lembut dalam aliran nadiku.
Senyummu fajar yang menyapa,
Menyalakan cahaya di tiap gelapku.
Saat kau menatap, dunia berhenti,
Luruh semua lara dan sunyi.
Dalam genggaman tanganmu,
Ada rumah yang tak terganti.